Penipuan di Masjid Nabawi

Penipuan oleh PPIH Palsu Marak di Masjid Nabawi

Jamaah calon haji (calhaj) harus mewaspadai petugas Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) palsu yang masih beroperasi di sekitar kompleks Masjid Nabawi. Hingga Senin (8/9) sore, Bidang Perlindungan Jamaah PPIH Arab Saudi mencatat ada empat jamaah yang menjadi korban penipuan petugas palsu.

Calhaj yang tertipu itu umumnya tengah melaksanakan shalat Arbain di Masjid Nabawi. Mereka mengatakan dirayu seseorang yang mengaku petugas dari Indonesia. Bahkan, ada yang mengenakan rompi hitam mirip seragam petugas.

“Rompi ini tak ada emblem atau tanda khusus petugas PPIH yang ada bendera Indonesia, emblem bertuliskan ‘PPIH’ dan tulisan berbahasa Arab dengan latar warna hijau,” ujar Ketua Bidang Perlindungan Jamaah PPIH Arab Saudi Ahmad Riad Syafrudin di Kantor Teknis Urusan Haji Indonesia (TUH), di Jeddah, Arab Saudi, Senin sore.

Salah satu kasus kejahatan yang dialami jamaah calon haji yang terdata sampai akhir pekan lalu adalah penipuan terhadap Sumarni binti Kamaludin dari Embarkasi Ujung Pandang pada Selasa (2/9). Dia kehilangan uang biaya hidup selama di Tanah Suci (living cost) sebesar Rp 6 juta ditambah 500 riyal Arab Saudi.

Dia menyerahkan tasnya kepada orang yang mengaku petugas di sekitar Masjid Nabawi. Kepada petugas keamanan PPIH, Sumarni mengaku tidak curiga kepada pelaku yang mengajaknya berbicara bahasa Indonesia. “Para pelaku kebanyakan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Arab. Apalagi, orang tersebut memakai rompi hitam, seperti yang dikenakan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Namun, setelah didalami, rompi mereka tanpa atribut,” ujar Ahmad Riad.

Kasus lainnya terjadi pada Rabu (3/9) yang menimpa Midi Ali, jamaah asal Makassar dari Kloter 1 Embarkasi Ujung Pandang. Dia kehilangan uang Rp 10 juta setelah, katanya, dihipnotis seseorang pada pukul 22.00 waktu setempat di sekitar Masjid Nabawi. Saat tersadar, Midi pun mengejar pelaku dan ponselnya terjatuh. Riad mengatakan tengah mencari identitas pelaku dari ponselnya.

Kasus ketiga menimpa Sidik Mulyana dari Embarkasi Jakarta Bekasi. Korban mengaku kehilangan tas berisi uang Rp 10 juta saat di Bandara Madinah. Namun, pelaksana Perlindungan Jamaah (Linjam) Bandara Madinah melapor ke Bagian Pengamanan Daerah Kerja (Daker) telah ditemukan tas berisi uang Rp 1,4 juta, tablet Samsung, dan peralatan pengisi baterai. Riad menyatakan tengah mendalami kebenaran laporan tersebut.

Waspadai petugas palsu

Jamaah diminta selalu waspada pada petugas palsu di sekitaran Masjid Nabawi, bahkan juga nantinya di Masjidil Haram. “Walau mengaku sama-sama saudara, satu daerah, jangan mudah percaya,” kata Riad.

Supaya terhindar dari aksi kejahatan, dia meminta jamaah mengenali tanda-tanda petugas PPIH. Petugas resmi mengenakan seragam baju putih dan rompi hitam. Di lengan atas kanan tersemat bendera Merah Putih. Nama dan tanda petugas serta atribut PPIH ada di rompi tersebut.

Saat bepergian, jamaah diminta tidak mengenakan perhiasan mencolok dan menyimpannya di safety box yang dititip di maktab. “Jangan menitipkan barang berharga pada orang yang baru dikenal,” jelasnya. Jamaah diimbau untuk saling mengingatkan soal ini ke jamaah lainnya.

Riad juga meminta agar jamaah selalu dalam rombongan saat bepergian dan jika tertinggal, jamaah hendaknya menunggu di pos patroli. Jika pergi, jamaah seharusnya menginformasikannya kepada rekan, muhrim, dan mematuhi instruksi tim pengamanan.

Riad juga menginstruksikan agar seluruh petugas mengenakan seragam lengkap di area masjid. “Sebisa mungkin mengenalkan identitas atau atribut kepada jamaah. Ini penting untuk meningkatkan rasa percaya diri jamaah,” kata Riad. * 

Sumber: Harian Republika

BACA JUGA:
Tawaf
Tata Cara Umroh
Puskeshaji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *