Jamaah Haji Jepang

Catatan Harian Jamaah Haji Jepang tahun 1923

Nama Tanaka Ibe tercatat sebagai Muslim kedua Jepang yang mengerjakan ibadah haji ke Mekkah. Ia memulai perjalanan panjang dan bersejarahnya itu dari Tokyo pada 11 Desember 1923 M, tak lama setelah kota itu diguncang gempa bumi, dengan melewati beberapa negara.

Lelaki bernama Muslim H. Nur Muhammad ini tak lupa menuliskan catatan harian selama berhaji, yang kemudian dipublikasikan di sebuah majalah Jepang, Sky Shishi Kai, edisi ke-5, yang terbit pada 5 November 1933 M, atau sepuluh tahun setelah berhaji.

Ia sengaja mempublikasikan catatan hariannya melalui majalah agar kaum Muslimin Jepang berbondong-bondong menunaikan ibadah haji. Dan catatan harian ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Sarah Takahashi.

Berikut petikannya:

“Perjalananku dimulai dari Tokyo menuju Manchuria, melewati beberapa kota di Cina. Aku menghabiskan waktu hingga enam bulan di negeri itu. Di sana aku bertemu lima belas Muslim Cina yang juga akan berangkat ke Mekkah. Kami pun berangkat bersama-sama. Tiba di Hongkong, kami menjalani pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi. Vaksinasi ini wajib bagi siapa pun yang hendak bepergian ke luar negeri.

Dari Hongkong, kami ke Singapura, lalu menuju Jawa. Saat itu, kami bertemu lagi dengan dua puluh Muslim lain dari Cina.

Kami pun bersama-sama menunggu kapal yang akan membawa kami ke tempat yang sangat kami dambakan,Tanah Suci Makkah.

Sembari menunggu kapal, kami senantiasa berdoa agar dimudahkan dalam menjalankan ibadah yang mulia ini, sambil berharap dapat melalui perjalanan ini dengan aman dan lancar. Kami menunggu kapal sambil tetap berdoa dan tidak mengeluh sedikit pun. Meski kami baru bertemu, tapi di antara kami sudah sangat akrab seolah telah lama saling kenal.”

Kapal Haji

Tanaka Ibe melanjutkan catatanya; “Perjalanan haji ke Mekkah punya sejarah panjang dan telah berlangsung lama bagi Muslim di Asia Tengah dan Timur, khususnya Cina. Dulu, jamaah haji dari Shanghai (Cina) atau daerah-daerah lain di Asia Tengah berangkat haji melalui jalur darat. Mereka biasa melewati Irak, Palestina, dan Madinah. Tapi kini, kami melakukan perjalanan haji melalui laut, dengan melintasi Singapura dan Bombay (India). Begitu pula dengan sebagian besar jamaah haji Asia, mereka mengarungi Samudra Hindia.

Kapal Haji di Masa Lalu dari Tanjung Priok (Jakarta) ke Jeddah (Ilustrasi)
Kapal Haji di Masa Lalu dari Tanjung Priok (Jakarta) ke Jeddah (Ilustrasi)

Kapal ini membawa kami menuju Jeddah. Bentuknya sangat besar, layaknya kapal kargo. Para awak kapal mengatakan bahwa setiap penumpang hanya mendapat tempat seluas 2 m x 70 cm di atas kapal tersebut, tidak lebih.

Kami membeli tiket kapal untuk perjalanan pergi dan pulang pada waktu bersamaan. Awak kapal sengaja menaikkan penumpang sebanyak-banyaknya, meski melebihi kapasitas. Bahkan, seolah tidak ada batas kapasitas tertentu untuk kapal tersebut.

Kapal yang aku naiki itu bernama Cayman. Beratnya sekitar 7.000 ton. Kapal ini disesaki oleh 3.200 penumpang yang harus berdesak-desakan hingga di atap. Aku sendiri mendapat tempat di geladak paling bawah. Di sana aku menggelar sajadah sebagai tanda bahwa tempat itu sudah ada yang menempati. Saat naik, penumpang saling berebut sejak pukul 05.00 pagi hingga 17.00 sore. Dua belas jam kemudian, kapal baru bergerak meninggalkan dermaga.

Kami berangkat di musim hujan sehingga kami kedinginan selama perjalanan. Kapal yang kami tumpangi terombang-ambing di laut. Ombak dan gelombang menghantam badan kapal hingga membuat kami ketakutan. Kami juga harus memasak untuk makan dengan jatah air tawar yang sangat terbatas dan kayu bakar seadanya.

Setelah melewati Samudra Hindia, kapal mengarungi Laut Arab, lalu Laut Merah. Di Laut Merah, cuaca juga tidak bersahabat. Hujan terus mengguyur dan hawa dingin menyengat. Meski begitu, kami selalu melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Begitulah keadaan kami setiap hari selama dalam perjalanan. Namun, semua terasa ringan dan waktu berlalu begitu cepat.

Di suatu pulau bernama Kamsran, di Laut Merah, kami diturunkan satu per satu sambil membawa barang bawaan kami untuk diperiksa, memastikan tidak ada penumpang yang akan menularkan penyakit. Pemeriksaan itu diperkirakan beriangsung selama sebulan. Kami beruntung, karena dalam dua hari pemeriksaan sudah selesai. Kami pun kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan menuju Jeddah.

Saat Jeddah sudah terlihat, kami segera bersiap siap untuk turun dari kapal. Setelah turun, lagi-lagi kami harus melewati pemeriksaan. Namun, pemeriksaan kali ini terkait barang yang kami bawa, termasuk dokumen perjalanan.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan sangat detil dan teliti, sesuai dengan ajaran Islam tentang pelaksanaan ibadah haji. Kami lalu mengganti pakaian dengan pakaian ihram berupa dua helai kain putih. Kain ini sangat sederhana (tidak terdapat jahitan), sampai-sampai ada yang menyebutnya seperti saat zaman pra sejarah.”*

Sumber: Atlas Haji dan Umrah karya Sami bin Abdullah al-Maghlouth

BACA JUGA:
Tata Cara Umroh
Pemindahan Makam Nabi
Pengertian Haji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *