Masjidil Haram

MASJIDIL HARAM

Masjidil Haram

Masjidil Haram adalah masjid terbesar di dunia, yang mengelilingi Ka’bah, kiblat umat Islam. Masjidil Haram dan Ka’bah ini juga menjadi pusat ritual ibadah haji dan umrah. Luas bangunan Masjidil Haram saat ini 356.800 m2, yang meliputi ruangan shalat di dalam (indoor) dan di luar bangunan utama masjid (outdoor).

Masjidil Haram adalah masjid yang dibangun pertama kali oleh para malaikat, jauh sebelum penciptaan umat manusia. Allah Ta’ala memerintahkan pembangunan tempat itu di muka bumi untuk merefleksikan rumah di surga yang bernama Baitul Makmur (Tempat Bersembahyang Para Malaikat). Dari waktu ke waktu, Masjidil Haram rusak akibat badai (banjir) dan dibangun kembali.

Masjidil Haram dibangun kembali oleh Ibrahim dengan bantuan anaknya, Ismail. Mereka diperintah oleh Allah untuk membangun masjid tersebut dan Ka’bah.
BACA SELENGKAPNYA…

Haji Tanpa Mahram

Haji Tanpa Mahram

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudara perempuanku dan nenekku insya Allah akan pergi haji, namun beberapa biro perjalanan haji sulit menerima mereka karena tanpa mahram. Nenekku itu seorang janda, sedang saudara perempuanku belum menikah. Pertanyaanku: Apakah hukum Islam mengijinkan perempuan pergi haji tanpa mahram?”

Jawaban:

Wa’alaikum salam wr. wb.

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji hanya untuk Allah, salam dan salawat untuk junjungan kita, Rasulullah saw.
BACA SELENGKAPNYA…

Haji dan Umrah

Haji dan Umrah

Haji menurut bahasa artinya adalah al-qashdu atau niat, menyengaja, menuju dan mengunjungi. Sedangkan menurut istilah, haji adalah berkunjung ke Baitullah di Mekkah untuk melakukan tawaf, sa’i dan wukuf di Arafah, serta amalan lainnya dengan niat haji pada masa tertentu demi mencapai ridho Allah.

Hukum ibadah haji adalah wajib dilakukan bagi orang yang mampu dalam rangka memenuhi rukun Islam serta bagi orang yang bernazar. Tapi bagi yang sudah melaksanakan haji, maka hukum haji berikutnya adalah sunnah.

Sedangkan umrah adalah salah satu ibadah yang hampir mirip dengan ibadah haji. Secara teknis syari’yah, ibadah umrah berarti berkunjung ke Baitullah di Makkah untuk melakukan tawaf, sa’i dan memotong/mencukur rambut (tahallul), yang dapat dilakukan kapan saja demi mencapai ridha Allah.

Perbedaan umrah dengan haji adalah pada waktu dan tempat. Umrah dapat dilaksanakan sewaktu-waktu (setiap hari, setiap bulan, setiap tahun) dan hanya di Mekkah, sedangkan haji hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara tanggal 8 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah di Mekkah.
BACA SELENGKAPNYA…

Umroh

UMROH

Umroh adalah berkunjung ke Baitullah untuk melaksanakan thawaf, sa’i dan tahallul dalam waktu yang tidak ditentukan, untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala. Umroh ini disunahkan bagi setiap muslim yang mampu, dan pelaksanaannya dapat dilakukan kapan saja, kecuali tanggal 10 Zulhijah dan hari-hari tasyrik (11-13 Dzulhijah).

Syarat-syarat umroh adalah: Beragama Islam, baligh (dewasa), berakal sehat, merdeka, dan mampu (fisik dan fianansial).

Tahapan pelaksanaan umroh:

1. Berangkat menuju miqat.
2. Berpakaian dan berniat ihram di miqat.
3. Melakukan shalat sunnah ihram dua rakaat jika memungkinkan.
4. Melafazhkan niat umroh.
5. Teruskan perjalanan ke Mekkah, dengan membaca talbiah sebanyak-banyaknya dan mematuhi larangan saat ihram.
6. Melakukan tawaf sebanyak tujuh putaran.
7. Melakukan sa’i antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.
8. Melakukan tahallul atau menggunting rambut.
BACA SELENGKAPNYA…

Waktu Melontar Jumrah

Waktu Terbaik untuk Melontar Jumrah

Oleh: Ustadz H Bobby Herwibowo (Pengasuh Majelis Al-Kauny)

TANYA: Ustadz, kapankah waktu terbaik melontar jumrah itu. Terima kasih.

Muhammad Hadi,
Demak

JAWAB:

Mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah jamaah haji akan berada di Mina, kecuali mereka yang mengambil Nafar Awwal (berangkat pada rombongan pertama yang meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah). Selama beberapa hari itu, seluruh jamaah melakukan mabit (bermalam/menginap) di sana seraya memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah. Tak kalah pentingnya, ada satu aktivitas ritual yang statusnya wajib dilakukan oleh setiap jamaah yang tidak berhalangan kondisi fisiknya, yakni melontar jumrah.

Melontar jumrah adalah salah satu ibadah wajib bagi jamaah haji. Pelaksanaannya sangat menguras fisik dan tak jarang menimbulkan risiko bagi keselamatan mereka.
BACA SELENGKAPNYA…

Adab Wukuf di Arafah

Adab-adab Wukuf di Arafah

Puncak ibadah haji yang agung adalah wukuf di Arafah, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa haji itu adalah wukuf di Arafah.

Maka sayang sekali, bila puncak dari ibadah haji yang menjadi puncak rukun Islam ini dilewati tanpa adab. Nah, bagaimanakah adab seorang hujjaj ketika ia wukuf di Arafah?

1. Hendaklah bergerak dari Mina pada pagi tanggal 9 Dzulhijjah menuju ke Namirah melalui jalan Dhab. Sebenarnya diperbolehkan melalui jalan lain jika jalur Dhab sangat padat dan macet. Namun, tentu saja jalur tersebut yang lebih utama.

2. Disunahkan untuk mandi di Namirah sesudah matahari tergelincir di siang hari. Kemudian baru menuju Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.
BACA SELENGKAPNYA…

Berkurban Ketika Haji

Berkurban Ketika Haji

Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

TANYA: Ustadz, jika kita sedang melaksanakan ibadah haji dan ingin berkurban, apakah harus di Mekkah atau di Tanah Air yang notabene kita menitipkannya kepada keluarga?

Hamba Allah

JAWAB:

Mayoritas atau jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakadah atau sunnah yang dikuatkan bagi orang yang hidup berkecukupan. Tapi, Abu Hanifah berpendapat, berkurban itu hukumnya wajib bagi mereka yang berkecukupan, kecuali orang yang sedang berhaji dan pada waktu itu berada di Mina.

Adapun mengenai berkurban bagi jamaah haji, menurut Imam Malik, tidak disunnahkan bagi jamaah haji, dan segala yang disembelih jamaah haji pada waktu dan tempat itu disebut hadyun bukan kurban.
BACA SELENGKAPNYA…

Pengalaman Haji Haryono Suyono

Dituntun di Lautan Manusia

Prof Dr Haryono Suyono, mantan Menko Kesra RI
Prof Dr Haryono Suyono, mantan Menko Kesra RI

Haryono Suyono sebenarnya mendapatkan fasilitas dari negara untuk melaksanakan ibadah haji dengan ONH Plus bersama pejabat lainnya. Fasilitas kamar khusus disediakan, tidak perlu berjejal-jejal seperti jamaah reguler lainnya. Bahkan, dijamu sebagai tamu VIP oleh Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi.

Tapi, ia memilih menjalankan ibadah haji menggunakan fasilitas layaknya haji reguler. Kamar mewah dengan fasilitas lengkap dia tolak. Haryono memilih haji regular dan tinggal di pemondokan, sekamar dengan 20 jamaah haji Indonesia lainnya.

Panggilan hati untuk dekat dengan masyarakat dari hati kecil Haryono tak bisa ditolak, sebagaimana kerap ia lakukan saat menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra). Di dalam kamar yang penuh sesak dan tak ber-AC, Haryono merasakan suatu keakraban yang luar biasa.

Saling berbagi makanan, saling berbagi ruang. Bahkan, saling mengingatkan untuk beribadah menjadi keseharian selama ibadah berlangsung. Tak urung, usianya yang sudah cukup lanjut membuat ia ditempatkan sebagai orang yang dituakan.
BACA SELENGKAPNYA…

Badal Haji dalam Mazhab Fikih

Badal Haji dan Pendapat Para Imam

Secara bahasa, badal haji atau haji badal berarti amanah haji atau menghajikan orang lain. Dalam terminologi fikih, badal haji adalah haji yang dilakukan seseorang atas nama orang lain yang sudah meninggal atau karena adanya uzur syar’i, baik rohani maupun jasmani.

Dengan kata lain, haji badal muncul berkaitan dengan seseorang yang telah dikategorikan wajib haji (terutama dari segi ekonomi) tapi tidak mampu melakukannya sendiri karena adanya halangan yang dilegalkan oleh syariat Islam.

Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa badal haji dilakukan dalam salah satu dari dua kondisi; ketika yang diwakilkan masih hidup atau yang diwakilkan telah meninggal dunia.

Berkenaan dengan kondisi pertama, para ulama berbeda pendapat akan kebolehannya. Imam Hanafi, Syafi’i dan Hanbali membolehkannya dengan syarat orang tersebut memiliki uzur syar’i yang berlaku seumur hidupnya, atau setidaknya diduga akan berlangsung seumur hidup. Contohnya orang lanjut usia atau yang menderita sakit tanpa harapan sembuh, yang karena telah memiliki kemampuan secara ekonomi masuk dalam kategori wajib haji.
BACA SELENGKAPNYA…